Rabu, 01 Juni 2016

perkembangan kognitif AUD

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Jean Piaget adalah seorang ilmuan yang dilahirkan di Neuchatel, Swiss. Piaget merupakan anak yang jenius, artikel pertamanya terbit pada usia 12 tahun. Pada usia 18 tahun meraih gelar sarjana dan mendapatkan gelar doktor di usia 21 tahun. Piaget adalah seorang ahli dalam bidang biologi dan yang kemudian tertarik terhadap cara berikir anak.
Piaget dalam Suparni (2003:20) berpendapat bahwa anak perlu diberikan berbagai pertanyaan untuk meningkatkan kemampuan beripikir anak. Piaget melakukan penelitiang longitudinal melalui pengamatan tentang perkembangan intelektual pada ketiga anaknya. Pada tahap selanjutnya Piaget juga melakukan riset pada ribuan anak lainnya.
Menurut pandangan Piaget, intelegensi anak berkembang melalui suatu proses active learning. Para pendidik hendaknya mengimplementasikan active learning dengan cara memberikan kesempatan kepada anak untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan yang dapat mengoptimalkan penggunaan seluruh panca indra anak.
Teori kognitif dari Jean Piaget ini masih tetap diperbincangkan dan diacu dalam bidang pendidikan. Teori ini mulai banyak dibicarakan lagi kira-kira permulaan tahun 1960-an. Pengertian kognisi sebenarnya meliputi aspek-aspek struktur intelek yang digunakan untuk mengetahui sesuatu. Piaget menyatakan bahwa perkembangan kognitif bukan hanya hasil kematangan organisme, bukan pula pengaruh lingkungan semata, melainkan hasil interaksi diantara keduanya.
Menurut Piaget, perkembangan kognitif mempunyai empat aspek, yaitu 1) kematangan, sebagai hasil perkembangan susunan syaraf; 2) pengalaman, yaitu hubungan timbal balik antara organisme dengan dunianya; 3) interaksi sosial, yaitu pengaruh-pengaruh yang diperoleh dalam hubungannya dengan lingkungan sosial, dan 4) ekullibrasi, yaitu adanya kemampuan atau sistem mengatur dalam diri organisme agar dia selalu mampu mempertahankan keseimbangan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya.
Sistem yang mengatur dari dalam mempunyai dua faktor, yaitu skema dan adaptasi. Skema berhubungan dengan pola tingkah laku yang teratur yang diperhatikan oleh organisma yang merupakan akumulasi dari tingkah laku yang sederhana hingga yang kompleks. Sedangkan adaptasi adalah fungsi penyesuaian terhadap lingkungan yang terdiri atas proses asimilasi dan akomodasi.
1.2  Rumusan Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
-          Apa pokok-pokok pikiran teori perkembangan kognitif menurut Piaget?
-          Bagaimana implikasi teori Piaget dalam pendidikan?

1.3  Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah:
-          Untuk mengetahui pokok-pokok pikiran teori perkembangan kognitif menurut Piaget
-          Untuk mengetahui implikasi teori Piaget dalam pendidikan







BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pokok-Pokok Pikiran Piaget Mengenai Teori Kognitif
Tujuan teori Piaget adalah untuk menjelaskan mekanisme dan proses perkembangan intelektual sejak masa bayi dan kemudian masa kanak-kanak yang berkembang menjadi seorang individu yang dapat bernalar dan berpikir menggunakan hipotesis-hipotesis.
Ketika Piaget bekerja sama dengan Binet dalam pengembangan tes untuk mengukur intelegnsi, ia sangat tertarik dengan jawaban salah yang diberikan oleh seorang anak dalam tes yang diberikan kepada mereka sehingga ia ingin tahu dan meneliti lebih lanjut apa yang ada dibelakang pemikiran anak terhadap jawaban salah tersebut. (Sudjiono, 2013:120)
Piaget menyimpulkan dari penelitiannya bahwa anak bermain dan berpikir aktif dalam mengembangkan kognitif mereka, kegiatan berpikir sangat penting untuk mengembangkan kegiatan anak, pengalaman-pengalaman sebagai bahan mentah untuk mengembangkan struktur mental anak, anak berkembang melalui interaksinya dengan lingkungan, perkembangan terjadi sebagai hasil dari kematangan dan interaksi antara anak, lingkungan fisik dan sosial anak.
Perkembangan kognitif yang dikembangkan Piaget banyak dipengaruhi oleh pendidikan awal Piaget dalam bidang biologi. Dari hasil penelitiannya dalam bidang biologi. Ia sampai pada suatu keyakinan bahwa suatu organisme hidup dan lahir dengan dua kecenderunngan yang fundamental, yaitu kecenderungan untuk beradaptasi dan organisasi. Untuk memahami proses-proses penataan dan adaptasi terdapat empat konsep dasar, yaitu sebagai berikut :
1.      Skema
Istilah skema atau skemata yang diberikan oleh Piaget untuk dapat menjelaskan mengapa seseorang memberikan respon terhadap suatu stimulus dan untuk menjelaskan banyak hal yang berhubungan dengan ingatan. Skema adalah struktur kognitif yang digunakan oleh manusia untuk mengadaptasi diri terhadap lingkungan dan menata lingkungan ini secara intelektual. Adaptasi terdiri atas proses yang saling mengisi antara asimilasi dan akomodasi.
2.      Asimilasi
Asimilasi itu suatu proses kognitif, dengan asimilasi seseorang mengintegrasikan bahan-bahan persepsi atau stimulus ke dalam skema yan ada atau tingkah laku yang ada. Asimilasi berlangsung setiap saat. Seseorang tidak hanya memperoses satu stimulis saja, melainkan memproses banyak stimulus. Secara teoritis, asimilasi tidak menghasilkan perubahan skemata, tetapi asimilasi mempnagruhi pertumbuhan skemata. Dengan demikian asimilasi adalah bagian dari proses kognitif, denga proses itu individu secara kognitif megadaptsi diri terhadap lingkungan dan menata lingkungan itu.
3. Akomodasi
Akomodasi dapat diartikan sebagai penciptaan skemata baru atau pengubahan skemata lama. Asimilasi dan akomodasi terjadi sama-sama saling mengisi pada setiap individu yang menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Proses ini perlu untuk pertumbuhan dan perkembangann kognitif. Antara asimilasi dan akomodasi harus ada keserasian dan disebut oleh Piaget adalah keseimbangan.
Disamping itu Piaget mengemukakan tentang konsep dasar  yang dapat mendukung perkembangan anak, yaitu semua orang membutuhkan belajar bagaimana membaca dan menulis, anak belajar dengan baik menggunakan panca inderanya, semua anak dapat dididik, semaua anak harus dididik untuk memaksimalkan kemampuannya, pendidikan harus dimulai sejak dini, anak tidak harus dipaksa untuk belajar tetapi haru sesuai dengan kesiapan belajar menekan dan harus memperisapkanpada tahap selanjutnya, kegaiatan belajar harus menarik dan berarti bagi anak, serta anak dapat belajar aktivitas berdasarkan ketertarikannya.
Istilah kognitif yang sering dikemukakan oleh Piaget sebenarnya meliputi aspek struktur kognitif yang digunakan untuk mengetahui sesuatu. Berdasarkan keyakinan bahwa kemampuan kognitif merupakan suatu yang fundamental dan yang membimbing tingkah laku anak terletak pada pemahaman bagaimana pengetahuan tersebut terstruktur dalm berbagai aspek.
Piaget mengemukakan bahwa perkembangan kognisi adalah interaksi dari hasil kematanagn manusia dan pengaruh lingkungan. Manusia aktif mengadakan hubungan dengan lingkungan, menyesuaikan diri terhadap objek-objek yang ada disekitarnya yang merupakan proses inetraksi untuk mengembangkan aspek kognitif.
Untuk keperluan pegkonseptualisasian pertumbuhan kognitif /perkembangan intelektual Piaget membagi perkemabngan ini ke dalam 4 periode yaitu :
1.      Periode Sensori motor (0-2 tahun)
Pada rentang usia tersebut, anak berinteraksi dengan dunia sekitar melalui panca indra. Dimulai dari gerakan reflek yang dimiliki sejak lahir, menghisap, menggenggam, melihat, melempar hingga pada akhir usia 2 tahun anak sudah dapat menggunakan satu benda dengan tujuan berbeda. Dapat berpikir kompleks seperti bagaimana cara untuk mendapatkan suatu benda yang diinginkan dan melakukan apa yang diinginkannya dengan benda tersebut. Kemampuan ini merupakan awal berpikir secara simbolik yaitu kemampuanuntuk memikirkan suatu objek tanpa kehadiran objek tersebut secara empirik (Sudjiono,2013:120)
2.      Periode Pra operasional (2-7 tahun)
Periode ini merupakan masa permulaan anak untuk membangun kemampuannya dalam menyusun pikirannya. Oleh sebab itu, cara berpikir anak belum satbil dan belum terorgansir secara baik. Periode ini dibagi menjadi 3 sub berpikir:
·           Berpikir secara simbolik (2-4 tahun), yaitu kemampuan berpikir tentang objek dan peristiwa secara abstrak. Anak sudah dapat menggambarkan objek yang tidak ada dihadapnnya. Kemampuan berpikir simbolik ditambah dengan kemampuan bahasa dan fantasi sehingga mempunyai dimensi baru dalam bermain. Anak-anak dapat menggunakan kata-katanya utnuk menandai suatu objek dan membuat substitusi dari objek tersebut.
·           Berpikir secara egosentris (2-4 tahun), anak melihat dunia dengan perspektifnya sendiri, menilai benar atau tidak berdasarkan sudut pandnag sendiri. Sehingga anak belum dapat meletakkan cara pandangnya dari sudut pandnag orang lain.
·           Berpikir secara intuitif (4-7 tahun) yaitu kemmapuan untuk menciptakan sesuatu (menggambar atau menyusun balok), tetapi tidak mengetahui alasan pasti mengapa melakukan hal tersebut. Pada usia ini anak sudah dapat mengklasifikasikan objek sesuai dengan kelompoknya.
           
3.      Periode Operasional Konkret (7-12 tahun)
Pada periode ini anak sudah mampu menggunakan operasi. Pemikiran anak tidak lagi didominasi oleh persepsi, sebab anak mampu memecahkan masalah secara logis. Dengan syarat objek yang menjadi sumber berpikir tersebut hadir secara konkret.
4.       Periode operasi formal (12,0-dewasa)
Periode operasi fomal merupakan tingkat puncak perkembangan struktur kognitif, anak dapat berpikir secara abstrak seperti kemampuan mengemukakan ide-ide, memprediksi kejadian yang akan terjadi, melakukan berpikir ilmiah yang mengemukakan hipotesis dan menetukan cara untuk membuktikan kebenaran hipotesis tersebut.
Piaget mengemukakan bahwa ada 4 aspek yang besar yang ada hubungnnya dengan perkembangan kognitif :
a.       Pendewasaaan/kematangan, merupakan pengembangan dari susunan syaraf.
b.      Pengalaman fisis, anak harus mempunyai pengalaman dengan benda-benda dan stimulus-stimulus dalam lingkungan tempat ia beraksi terhadap benda-benda itu.
c.       Interaksi sosial, adalah pertukaran ide antara individu dengan individu
d.      Keseimbangan, adalah suatu system pengaturan sendiri yang bekerja untuk menyelesaikan peranan pendewasaan, penglaman fisis, dan interksi social.

2.2 Implikasi Teori Piaget Dalam Pendidikan
Teori Piaget membahas kognitif atau intelektual. Dan perkembangan intelektual erat hubungannya dengan belajar, sehhingga perkembangan intelektual ini dapat dijadkan landasan untuk memahami belajar.
Belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi akibat adanya pengalaman dan sifatnya relatif tetap. Teori Piaget mengenai terjadinya belajar didasari atas 4 konsep dasar, yaitu skema, asimilasi, akomodasi dan keseimbangan. Piaget memandang belajar itu sebagai tindakan kognitif, yaitu tindakan yang menyangkut pikiran. Tindakan kognitif menyangkut tindakan penataan dan pengadaptasian terhadap lingkungan.
Piaget menginterpretasikan perkembangan kognitif dengan menggunakan diagram berikut :
new-picture-1
Berdasarkan diagram tersebut dimulai dengan meninjau anak yang sudah memiliki pengalaman yang khas, yang berarti anak sudah memiliki sejumlah skemata yang khas. Pada suatu keadaan seimbang sesaat ketika ia berhadapan dengan stimulus (bisa berupa benda, peristiwa, gagasan) pada pikiran anak terjadi pemilahan melalalui memorinya. Dalam memori anak terdapat 2 kemungkuinan yang dapat terjadi yaitu, terdapat kesesuaian sempurna antara stimulus dengan skema yang sudah ada dalam pikiran anak atau terdapat kecocokan yang tidak sempurna, antara stimulus dengan skema yang ada dalam pikiran anak.
Kedua hal itu merupakan kejadian asimilasi. Menurut diagram, kejadian kesesuaian yang sempurna itu merupakan penguatan terhadap skema yang sudah ada. Stimulus yang baru (datang) tidak sepenuhnya dapat diasimilasikan ke dalam skemata yang ada. Di sini terjadi semacam gangguan mental atau ketidakpuasan mental seperti keingintahuan, kepedulian, kebingungan, kekesalan, dsb. Dalam keadaaan tidak seimbang ini anak mempunyai 2 pilihan :
·      Melepaskan diri dari proses belajar dan mengabaikan stimulus atau menyerah dan tidak berbuat apa-apa (jalan buntu)
·      Memberi tanggapan terhadap stimulus baru itu baik berupa tanggapan secara fisik maupun mental. Bila ini dilakukan anak mengubah pandangannya atau skemanya sebagai akibat dari tindakan mental yang dilakukannya terhadap stimulus itu. Peritiwa ini disebut akomodasi.
Anak usia dini belajar melalui active learning,metode yang digunakan adalah memberikan pertanyaan pada anak dan memberikan berpikir atau bertanya pada diri sendiri, sehingga hasil belajar yang didapat merupakan konstruksi anak tersebut. Karena pada dasarnya anak memiliki kemampuan utnuk membangun dan mengkreasi pengetahuan sendiri, sehingga sangat penting bagi anak untuk terlibat langsung dalam proses belajar. Piaget juga menjelaskan bahawa pengalam belajar anak lebih banyak didapat dengan cara bermain, melakukan percobaan dnegan objek nayata, dan melalui pengalam konkret. Anak mempunyai kesempatan untuk mengkreasi dan memanipulasi objek atau ide.



BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Menurut pandangan Piaget, intelegensi anak berkembang melalui suatu proses active learning. Para pendidik hendaknya mengimplementasikan active learning dengan cara memberikan kesempatan kepada anak untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan yang dapat mengoptimalkan penggunaan seluruh panca indra anak.




DAFTAR PUSTAKA
Sujiono, Yulianu Nuraini. 2009. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta : PT. Indeks


PERAN PENDIDIK (GURU DAN ORANG TUA) DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK USIA DINI

PERAN PENDIDIK (GURU DAN ORANG TUA) DALAM PEMBENTUKAN
KARAKTER ANAK USIA DINI

 ABSTRAK
 Masa usia dini merupakan maa yang sangat potensial bagi seseorang untuk mengembangkan
seluruh kemampuannya. Termasuk juga dalam pembentukan karakter. Pada masa sekarang ini
banyak anggapan bahwa karakter bangsa kita sedang berada pada kondisi yang kurang baik.
Hal ini dirtandai dengan banyaknya kasus baik criminal maupun moral dan sopan santun yang
sangat membuat miris bagi kita. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh pendidik (guru dan
orang tua) untuk membantu membangun dan membentuk karakter seorang anak. Diantaranya
adalah menerapkan disiplin secara tepat, mendampingi anak saat menggunakan media baik
cetak maupun non cetak dan menjadi model atau teladan dalam penerapan kehidupan sehari-
hari. Selama ini banyak kesalahan yang dering dilakukan orang tua baik secara sadar maupun
tidak sadar yang dapat menimbulkan dampak yang kurang baik bagi pembentukan karakter
anak.

PENDAHULUAN
Saat ini banyak kita saksikan baik secara langsung maupun melalui media tentang tindakan
kekerasan, pelecehan maupun tindakan kriminal lainnya. Misalnya saja tindakan perkosaan
terhadap anak dibawah umur yang dilakukan juga oleh anak di bawah umur, atau pelecehan
seksual yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak-anak kecil baik laki-laki maupun
perempuan. Hal itu membuat kita geleng-geleng kepala atau mengusap dada karena prihatin.
Selain itu, saat ini juga banyak orang yang beranggapan bahwa anak-anak sekarang kurang
memiliki sopan santun dan tidak dapat menunjukan perilaku yang baik. Hal ini kemungkinan
besar dipengaruhi oleh lingkungan dan pengaruh kemajuan teknologi yang sangat pesat.

Sepeti kita ketahui, pengaruh tayangan berbagai acara di televisi dan bebasnya jaringan
internet dimana-mana menjadi salah satu hal yang dituding sebagai penyebab rusaknya moral

dan karakter anak bangsa. Hal ini tak bisa dipungkiri karena faktor lingkungan sangat
mempengaruhi perilaku yang mencerminkan moral dan karakter individu.

Menurut Megawangi (2003), anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter
apabila dapat tumbuh pada lingkungan yang berkarakter, sehingga fitrah setiap anak yang
dilahirkan suci dapat berkembang segara optimal. Mengingat lingkungan anak bukan saja
lingkungan keluarga yang sifatnya mikro, maka semua pihak - keluarga, sekolah, media massa,
komunitas bisnis, dan sebagainya - turut andil dalam perkembangan karakter anak. Dengan kata
lain, mengembangkan generasi penerus bangsa yang berkarakter baik adalah tanggung jawab
semua pihak. Tentu saja hal ini tidak mudah, oleh karena itu diperlukan kesadaran dari semua
pihak bahwa pendidikan karakter merupakan ”PR” yang sangat penting untuk dilakukan segera.
Terlebih melihat kondisi karakter bangsa saat ini yang memprihatinkan serta kenyataan bahwa
manusia tidak secara alamiah (spontan) tumbuh menjadi manusia yang berkarakter baik, sebab
menurut Aristoteles (dalam Megawangi, 2003), hal itu merupakan hasil dari usaha seumur hidup
individu dan masyarakat. Oleh karenanya dalam makalah ini akan dibahas tentang peran
pendidik (guru dan orang tua) terhadap pengembangan karakter anak khususnya anak usia dini.


PEMBAHASAN



Pengertian Karakter

Karakter oleh berbagai pihak didefinisikan secara beragam. Dalam encyclopedia.
thefreedictionary.com, (2004) dikatakan bahwa karakter sebagai penilaian subyektif terhadap
kualitas moral dan mental, sementara yang lainnya menyebutkan karakter sebagai penilaian
subyektif terhadap kualitas mental saja, sehingga upaya merubah atau membentuk karakter
hanya berkaitan dengan stimulasi terhadap intelektual seseorang.

Arti karakter dari sisi bahasa, antara lain: “character” (Latin) berarti instrument of narking
“charessein” (Prancis) berarti to engrove (mengukir), “watek” (Jawa) berarti ciri wanci,
“watak” (Indonesia) berarti sifat pembawaan yang mempengaruhi tingkah laku; budi pekerti;
tabiat; perangai dan secara terminologi karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti
yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang. Definisi dari “The stamp of
individually or group impressed by nature, education or habit.

Menurut Coon (1983) karakter adalah suatu penilaian subyektif terhadap kepribadian
seseorang yang berkaitan dengan atribut kepribadian yang dapat atau tidak dapat diterima oleh
masyarakat.

Megawangi (2003), menyatakan bahwa seseorang yang memiliki karakter baik adalah yang
memiliki kualitas karakter yang meliputi sembilan pilar, yaitu (1) cinta tuhan dan segenap
ciptaan-nya; (2) tanggung jawab, disiplin dan mandiri; (3) jujur/amanah dan arif; (4) hormat dan
santun; (5) dermawan, suka menolong, dan gotong-royong; (6) percaya diri, kreatif dan pekerja
keras; (7) kepemimpinan dan adil; (8) baik dan rendah hati; (9) toleran, cinta damai dan
kesatuan.

Perkembangan karakter pada setiap individu dipengaruhi oleh faktor bawaan (nature) dan
faktor lingkungan (nurture). Menurut para ahli psikologi perkembangan, setiap manusia memiliki
potensi bawaan yang akan termanisfestasi setelah dia dilahirkan, termasuk potensi yang terkait
dengan karakter atau nilai-nilai kebajikan (Latifah, 2008). Sejalan dengan hal itu Confusius
menyatakan bahwa manusia pada dasarnya memiliki potensi mencintai kebajikan, namun bila
potensi ini tidak diikuti dengan pendidikan dan sosialisasi setelah manusia dilahirkan, maka
manusia dapat berubah menjadi binatang, bahkan lebih buruk lagi (Megawangi, 2003).
Berdasarkan gambaran tersebut, meskipun setiap anak dilahirkan dengan pembawaan yang baik
namun dalam perkembangannya dia membutuhkan lingkungan yang baik pula untuk dapat
menghasilkan karakter yang baik pula. Oleh karenanya tampaklah betapa pentingnya pendidikan
karakter pada anak sedini mungkin agar pada saat dewasa nantinya dia memiliki karakter yang
baik


Peran Pendidik (guru dan orang tua) dalam Pengembangan Kakarter Anak

Para ahli berpendapat bahwa keluarga memiliki peran penting dalam menentukan kemajuan
suatu bangsa dan bagi seorang anak, keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi
pertumbuhan dan perkembangannya. Majelis Umum PBB (dalam Megawangi, 2003)
menyatakan bahwa fungsi utama keluarga adalah ”sebagai wahana untuk mendidik, mengasuh,
dan mensosialisasikan anak, mengembangkan kemampuan seluruh anggotanya agar dapat
menjalankan fungsinya di masyarakat dengan baik, serta memberikan kepuasan dan lingkungan
yang sehat guna tercapainya keluarga, sejahtera”.
 Banyak cara yang dapat dilakukan pendidik (guru dan orang tua) dalam membentuk dan
membangun karakter seorang anak. Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan pendidik
(guru dan orang tua).

1. Mendisiplinkan Anak Secara Tepat

Disiplin adalah bagaimana membelajarkan pada anak tentang perilaku moral yang dapat
diterima kelompok. Tujuan utamanya adalahmemberitahu dan menanamkan pengertian dalam
diri anak tentang perilaku baik dan perilaku buruh dan mendorong anak untuk memiliki perilaku
yang sesuai standar tersebut. Pendidik (guru dan orang tua) dapat menerapkan disiplin pada anak
anak dengan cara otoriter dimana pendidik (guru dan orang tua) memberikan berbagai aturan
dan anak harus mematuhinya tanpa ada kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya dengan
cara ini maka antara anak dan pendidik (guru dan orang tua) seoalah terdapat dinding pemisah
dan pengembangan karakter tidak akan berlangsung optimal. Cara kedua adalah dengan cara
permisif/lemah dimana pendidik (guru dan orang tua) bersikap longgar dan segala sesuatu
diterapkan sesuai keinginan anak. Cara ini juga tidak kondusif bagi pengembangan karakter anak
karena anak mebuat anak bingung dan kemungkinan salah arah dapat terjadi. Cara ketiga adalah
demokratis yang menekankan pada hak anak untuk mengetahui alas an suatu aturan dibuat dan
anak memiliki kesempatan untuk mengemukakan ketidak setujuan dan memberkan argument
atas ketidak setujuannya. Cara ketiga ini merupakan cara yang optimal untuk pengembangan
karakter anak.
2. Pemberian Hukuman Yang Efektif Pada Anak
Hukuman merupakan konsekuensi sikap atau perilaku negative dan bila diterapkan dengan benar hukuman dapat mengurangi perilaku buruk (Nugraha dan Dina Dwiyana, 2009). Menurut
Reputrawati (2007) dalam Nugraha dan Dina Dwiyana, 2009), hukuman memiliki tiga tujuan,
yaitu 1) dilakukan sebagai upaya penegakan peraturan, 2) sebagai bagian dari pendidikan dan, 3)
untuk memotivasi.
Bagaimana cara memberikan hukuman yang efektif? Berikut adalah beberapa pertimbangan
dalam pemberian hukuman (Nugraha dan Dina Dwiyana, 2009). 1) Hukuman sebaiknya diberikan sesuai dengan kadar kesalahan. 2) Harus konsiten. 3) Tidak berlebihan. 4) Tidak
bersifat fisik yang menyakitkan. 5) Tidak mempermalukan anak di depan umum. 6) Tidak
menyerang pribadi, artinya fokus pada kesalahan yang dilakukan anak. 7) Bersifat konstruktif,
harus mampu mebuat anak lebih peka dan bangkit dari kesalahannya. 8) Bisa dikomunikasikan.
9) Pemberian reward diperlukan jika anak berperilaku positif.

3. Pendampingan Penggunaan Media Non Cetak (Televisi Dan Internet)
Saat ini tak dapat dipungkiri bahwa televisi sudah menjadi teman dan sahabat bagi anak-anak
terutama bagi orang tua yang sibuk bekerja di luar rumah. Beberapa dampak yang ditimbulkan
akibat penggunaan televise dan penggunaan internet adalah sebagai berikut.
a. Waktu belajar anak kadang menjadi tidak teratur . Anak usia tersebut biasanya masih belum
dapat menyusun jadwal belajar sendiri dan seringkali belum dapat menepati jadwal yang
telah disusunkan pendidik (guru dan orang tua) untuknya. Apalagi jika waktu untuk anak
menonton televise dan bermain internet tidak dibatasi maka kemungkinan besar anak akan
kehabisan waktu untuk belajar.
b. Di kelas atau sekolah anak cenderung tidak dapat berkonsentrasi dengan baik karena
pikirannya masih terfokus pada tayangan televise dan penggunaan internet yang ditekuninya.
c. Kemungkinan besar anak akan kehilangan aktivitas sosial secara nyata karena saat menonton
televise dan atau bermain internet anak hanya berhadapan dengan televise dan komputer.
d. Anak yang sering menonton televisi dan menggunakan internet dan komputer biasanya
memiliki kemampuan membaca dan menulis yang kurang baik karena mereka tidak terbiasa
menulis dengan bolpoin dan tangan namun hanya biasa menekan tombol-tombol huruf pada
remote dan keyboard. Mereka juga cenderung kurang dapat melakukan komunikasi dengan
baik karena jarang berhubungan dengan manusia lainnya secara fisik. Mereka terbiasa
berhubungan dengan orang lain melalui layar kaca dan cenderung bersifat semu (pasif).
e. Perkembangan fisik anak juga dapat terganggu karena anak kurang bergerak atau
berolahraga.
f. Anak seringkali tidak memahami tentang sopan santun atau kurang menghargai milik orang
lain. Hal ini mungkin terjadi karena melalui internet kita dapat mengunduh atau mengcopy
materi tanpa harus meminta ijin pada pemiliknya. Selain itu banyak tayangan televise yang
menggambarkan kurangnya sikap sopan santun.
g. Anak juga kurang terasah simpati dan empatinya karena mereka tidak mengalami atau
melihat suatu kejadian dengan lebih nyata sehingga mereka cenderung kurang peduli pada
orang lain.

Meskipun dampak negatif tayangan televisi dan penggunaan internet cukup banyak dan dapat
mengganggu perkembangan perilaku anak namun pendidik (guru dan orang tua) tidak perlu
kuatir. Mereka dapat membentenginya dengan beberapa cara berikut ini.
a. Buat aturan dan batasan bersama dengan anak dan anggota keluarga lainnya tentang waktu
dan bagaimana memanfaatkan tayangan televise dan menggunakan internet dengan baik.
b. Dampingi saat anak menonton televisi dan atau menggunakan internet. Beritahu mereka apa
yang boleh dan apa yang tidak boleh mereka tonton atau mereka buka.
c. Letakkan televisi atau komputer (internet) di ruang keluarga dan bukan di dalam kamar.
d. Pilihkan acara/menu yang sesuai untuk anak
e. Ajarkan anak untuk selalu bersikap terbuka terhadap apapun yang mereka lakukan saat
menggunakan internet. Sehingga tidak ada materi apapun yang mereka sembunyikan dari
pendidik (guru dan orang tua) ataupun orang terdekatnya. Selain itu pendidik (guru dan orang
tua) dapat menggunakan software KeyLoggers (pengunci masuk komputer atau pengunci
internet). Software ini dapat mengontrol semua kegiatan komputer tanpa memperlihatkan
bukti tertulis pada window task manager. Dengan cara ini pendidik (guru dan orang tua)
dapat mengunci komputer agar sehingga anak tidak bisa main game, chatting atau
menggunakan internet saat pendidik (guru dan orang tua) tidak berada di rumah. Program ini
juga dapat menangkal email untuk jangka waktu tertentu.
4. Pendampingan Penggunaan Media Cetak
Buku atau bahan bacaan tercetak lainnya seperti majalah, koran, gambar, dan brosur.
merupakan media yang sangat efektif untuk membantu anak meningkatkan kemampuannya.
Melalui buku dan bahan bacaan lainnya anak dapat mengembangkan kemampuannya dalam
berimajinasi, berbahasa, bersikap kreatif, maupun meningkatkan kemampuan kognitifnya.
Untuk dapat memanfaatkan penggunaan buku dan bahan bacaan pada anak usia dini, pendidik
harus mengetahui criteria buku yang baik untuk anak usia dini. Kriteria ini dikemukakan oleh
Cullinan (1990) menambahkan kriteria buku bacaan yang perlu dipenuhi, yaitu sebagai berikut.

a. Buku untuk anak-anak hendaknya berisi bacaan berirama dan kosakata yang menarik
b. Isi dan konteks dari buku tersebut hendaknya berada pada tingkat konsep yang dimengerti
anak
c. Buku hendaknya menampilkan pengalaman yang berhubungan dengan kehidupan anak
d. Buku hendaknya dibuat dengan kuat dan tidak mudah rusak. Hal ini perlu karena koodinasi
motorik anak belum berkembang dengan baik
e. Buku hendaknya membuat anak dan guru senang membaca

Bentuk pendampingan yang dapat dilakuakan pendidik diantaranya adalah dengan
menyediakan bahan bacaan yang berkualitas dan sesuai dengan tingkat perkembangan anak.
Berikut disampaikan beberapa tips dalam memilih buku atau bahan bacaan untuk anak usia dini.
a. Buku yang dipilih menggunakan bahasa yang sederhana dan dipahami anak.
b. Buku tersebut berisi contoh atau makna kehidupan yang baik dan benar sehingga dapat
membekali anak dengan nilai-nilai moral yang baik.
c. Sebaiknya buku tersebut dapat membantu anak mengembangkan imajinasi dan
kreativitasnya baik ecara langsung maupun sebagai dampak pengiring.
d. Tulisan dalam buku sebaiknya singkat, sederhana dan mudah dimengerti.
e. Sebaiknya gambar memiliki porsi yang lebih banyak dibandingkan dengan tulisannya
namun bukan berupa cerita gambar seperti komik.
f. Sebaiknya pendidik memilih buku dengan desain dan tampilan yang kuat dan tidak mudah
rusak.
g. Sebaiknya buku tersebut berwarna menarik dengan komposisi yang seimbang, jangan terlalu
banyak warna dalam satu halaman.
h. Bahan pembuat buku sebaiknya tidak berbahaya bagi anak-anak.
5. Modelling
Dari semua cara yang dapat dilakukan oleh pendidik, modelling atau teladan adalah salah
satu cara yang terbaik. Anak dapat langsung mendapatkan gambaran yang nyata dan real
mengenai sikap dan perbuatan yang baik dan buruk ataupun yang sesuai atau tidak sesuai
dengan lingkungan di sekitarnya. Oleh karenanya pendidik harus benar-benar berhati-hati dalam
betutur kata maupun bertindak khususnya di hadapan anak usia dini. Seperti kita ketahui, masa
usia dini merupakan masa meniru (Imitation). Pada masa ini segala tingkah laku bahkan kata-
kata yang didengarnya akan langsung ditirunya dengan tanpa saringan apapun. Ibarat spons,
segala informasi yang diamati dan dirasakan anak usia dini akan terserap seluruhnya ke dalam
jiwa dan pikiran mereka. Apalagi jika model yang ditirunya adalah orang yang diidolakannya
(seperti gurunya), maka materi yang ditirukannya terebut dapat bertahan lama dan mendalam.
Jika hal yang ditirunya adalah hal yang baik, maka hal itu akan berdampak positif bagi anak di
kemudian hari. Namun jika hal yang ditirunya adalah hal yang tidak baik/buruk atau tidak benar
maka akan dapat berdampak negative bagi karakter anak dalam kehidupan selanjutnya.

Menurut Megawangi (2003) ada beberapa kesalahan pendidik (guru dan orang tua) dalam
mendidik anak yang dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan emosi anak sehingga
berakibat pada pembentukan karakternya, yaitu, sebagai berikut.


1. Kurang menunjukkan ekspresi kasih sayang baik secara verbal maupun fisik.


2. Kurang meluangkan waktu yang cukup untuk anaknya.
3. Bersikap kasar secara verbal, misainya menyindir, mengecilkan anak, dan berkata-kata kasar.
4. Bersikap kasar secara fisik, misalnya memukul, mencubit, dan memberikan hukuman badan
lainnya.
5. Terlalu memaksa anak untuk menguasai kemampuan kognitif secara dini.
6. Tidak menanamkan "good character' kepada anak.

Dampak yang ditimbulkan dari salah asuh seperti di atas, menurut Megawangi akan
menghasilkan anak-anak yang mempunyai kepribadian bermasalah atau mempunyai kecerdasan
emosi rendah.
1. Anak menjadi acuh tak acuh, tidak butuh orang lain, dan tidak dapat menerima persahabatan.
Karena sejak kecil mengalami kemarahan, rasa tidak percaya, dan gangguan emosi negatif
lainnya. Ketika dewasa ia akan menolak dukungan, simpati, cinta dan respons positif lainnya
dari orang di sekitarnya. la kelihatan sangat mandiri, tetapi tidak hangat dan tidak disenangi
oleh orang lain.
2. Secara emosiol tidak responsif, dimana anak yang ditolak akan tidak mampu memberikan
cinta kepada orang lain.


3. Berperilaku agresif, yaitu selalu ingin menyakiti orang baik secara verbal maupun fisik.


4. Menjadi minder, merasa diri tidak berharga dan berguna.


5. Selalu berpandangan negatif pada lingkungan sekitarnya, seperti rasa tidak aman, khawatir,
minder, curiga dengan orang lain, dan merasa orang lain sedang mengkritiknya.


6. Ketidakstabilan emosional, yaitu tidak toleran atau tidak tahan terhadap stress, mudah
tersinggung, mudah marah, dan sifat yang tidak dapat dipreaiksi oleh orang lain.


7. Keseimbangan antara perkembangan emosional dan intelektual. Dampak negatif lainnya
dapat berupa mogok belajar, dan bahkan dapat memicu kenakalan remaja, tawuran, dan
lainnya.
8. Pendidik (guru dan orang tua) yang tidak memberikan rasa aman dan terlalu menekan anak,
akan membuat anak merasa tidak dekat, dan tidak menjadikan pendidik (guru dan orang
tua)nnya sebagai ”role model” Anak akan lebih percaya kepada "peer group"nya sehingga
mudah terpengaruh dengan pergaulan negatif.




PENUTUP

Karakter sebagai sifat pembawaan yang mempengaruhi tingkah laku; budi pekerti; tabiat;
perangai dan secara terminologi karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang
menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang, harus dipupuk dan dikembangkan sedini
mungkin. Oleh karenanya Pendidik (guru dan Orang tua) harus benar-benar memahami apa saja
hal-hal yang dapat menghambat pengembangan karakter anak dan apa saja yang dapat membantu
meningkatkan sikap dan perilaku anak sehingga akhirnya akan membentuk karakter yang baik
bagi anak. Banyak hal yang dapat dilakukan pendidik seperti menerapkan disiplin dengan tepat,
anak saat menggunakan media baik cetak maupun non cetak seperti televisi, internet dan
permainan online. Selain itu satu hal yang tak kalah pentingnya adalah modeling (teladan) dalam
perkataan maupun tindakan yang dapat ditiru anak. Pendidik juga harus berusaha menghindari
berbagai kesalahan yang dapat mempengaruhi pembentukan karakter anak.



DAFTAR PUSTAKA
Coon, Dennis. (1983). Introduction to Psychology: Exploration and Aplication. West Publishing
Co.
Cullinan, B.E. (1990). Children Literature in The Reading Program. Nework: International
Reading Association
Megawangi, Ratna. (2003). Pendidikan Karakter untuk Membangun Masyarakat Madani. IPPK
Indonesia Heritage Foundation
Latifah, Melly, (2008). Peranan Keluarga dalam Pendidikan Karakter AnakError! Hyperlink
reference not valid.
Nugraha, Ali dan Sy. Dina Dwiyana. (2009) Pelibatan Orang tua dan Masyarakat dalam masalah
kekerasan pada anak usia dini. Dalam Nugraha , Ali (2009). Pelibatan Orang Tua dan
Masyarakat. Jakarta: Universitas Terbuka.
Zaman, Badru dan Nugraha, Ali. (2009). Pelibatan Orang Tua dan Masyarakat dalam
Pendampingan Penggunaan Media Anak Usia Dini. Dalam Nugraha , Ali (2009).
Pelibatan Orang Tua dan Masyarakat. Jakarta: Universitas Terbuka.

http://encyclopedia.thefreedictionary.com. Diakses tanggal 26 April 2004. Pukul. 14.30